Lukas 12 : 1 - 12
Tanggal: Minggu, 26 Januari 2020
Thema SINODE: Jujur adalah buah takut akan Tuhan
Thema SINODE: Jujur adalah buah takut akan Tuhan
Sub thema: Kemunafikan
Ciri khas Injil Lukas sebagian
besar mengandung banyak episode dan perumpamaan yang tidak dijumpai dalam Injil
lainnya, dan mungkin merupakan hasil riset pribadinya. Kronologinya sulit
dilacak; bagian ini tampaknya merupakan kumpulan cerita dan bukan suatu narasi
yang lengkap. Sekalipun demikian, bagian ini menyajikan ajaran Yesus pada tahun
terakhir pelayanan-Nya, dan menggambarkan periode yang penuh penolakan dan
ketegangan.
12:1.
Ragi ... orang Farisi. Ragi pada umumnya merupakan
lambang kejahatan. Akibat peragian dan kebusukan yang dihasilkan merupakan
lambang pekerjaan kotor dari dosa di dalam hati manusia.
Mengapa Tuhan Yesus mengumpamakan kemunafikan orang Farisi sama seperti ragi? Karena sifat munafik itu seperti ragi yang gampang menulari dan pada akhirnya merusak karakter orang lain. Sebagai pemimpin agama yang memiliki otoritas mudah sekali bagi mereka untuk menyalahgunakan otoritas itu, dengan menipu para pengikutnya, dan pada akhirnya para pengikut itu pun ikut-ikutan bertindak munafik.
Tuhan Yesus mengingatkan para murid bahwa kemunafikan, suatu waktu akan terbongkar (2-3). Apa yang ditutupi oleh manusia, akan dibuka oleh Allah yang melihat ke dalam hati. Maka, hukuman berat akan menimpa mereka yang karena kemunafikannya menyesatkan orang lain,dan menjadikan orang lain itu sama dengan mereka, yaitu munafik!
Bahkan Yesus dengan keras menyatakan sikap menyesatkan orang lain dari kebenaran tidak beda dengan menghujat Roh Kudus (10).
Menghujat Roh Kudus di sini harus dimengerti sebagai menolak
menerima pengajaran dari Sang Sumber dan Sang Pengajar Kebenaran sehingga memalsukan kebenaran dan pada akhirnya menyesatkan orang lain dengan kebenaran yang palsu tersebut.
Tuhan Yesus mengingatkan para murid agar jangan takut kepada para pemimpin sedemikian yang seolah memiliki kuasa untuk mengucilkan bahkan membunuh mereka (4). Tuhan sendiri yang akan menghakimi mereka (5). Tuhan sendiri menjanjikan akan melindungi murid-murid-Nya dari para pemimpin seperti itu, bahkan akan memberi hikmat pada saatnya untuk menghadapi tuduhan mereka (11-12).
Peringatan Tuhan Yesus ditujukan kepada para murid, berarti juga kepada kita sekalian. Bisa jadi kita pun tertular kemunafikan
orang Farisi, yang mementingkan penampilan dan prestise semata.
Bisa jadi kita melakukan hal tersebut karena takut dikucilkan,
atau bahkan mendapat aniaya. Ingat, bila kita terseret kepada
kemunafikan, bukan hanya diri kita yang dirugikan. Orang-orang
yang ada di sekeliling kita, yang memercayai kita sebagai
murid-murid Tuhan pun akan ikut tersandung.
KEMUNAFIKAN.
Yesus mencela kemunafikan orang Farisi, dan memperingatkan
murid-Nya untuk berhati-hati agar dosa ini tidak memasuki kehidupan dan
pelayanan mereka.
1. 1)
Kemunafikan berarti memperlihatkan sikap dan tindakan yang tidak sesuai dengan
perbuatannya -- misalnya: bertindak di hadapan umum sebagai seorang percaya
yang saleh dan setia, padahal sedang menaruh dosa yang tersembunyi,
kedursilaan, ketamakan, nafsu, atau ketidakadilan lainnya. Orang munafik adalah
seorang penipu dalam hal kebenaran yang dapat dilihat
2. 2) Karena
kemunafikan menyangkut hidup dalam dusta, maka itu membuat seseorang menjadi
rekan kerja dan sekutu Iblis, bapa segala dusta (Yoh 8:44).
3. 3) Yesus
memperingatkan murid-murid-Nya bahwa segala kemunafikan dan dosa yang
tersembunyi akan dibuka, jika tidak dalam hidup sekarang, pastilah pada hari
penghakiman (lih. Rom 2:16; 1Kor 3:13; 4:5; Wahy 20:12). Apa
yang dilakukan secara rahasia di balik pintu yang tertutup pada suatu saat akan
disingkapkan secara terang-terangan (ayat Luk 12:2-3).
4. 4)
Kemunafikan adalah suatu tanda bahwa seseorang tidak takut akan Allah
(ayat Luk 12:5) dan
tidak memiliki Roh Kudus dengan kasih karunia pembaharuannya (lih. Rom 8:5-14; 1Kor 6:9-10; Gal 5:19-21; Ef 5:5).
Sementara tinggal dalam kondisi demikian, seseorang tidak dapat
"meluputkan diri dari hukuman neraka" (Mat 23:33).
Khotbah Lukas 12:1-12, Minggu 26 Jan 2020
Thema:
JUJUR ADALAH BUAH TAKUT AKAN TUHAN
Sub thema: TAKUTLAH KEPADA ALLAH
Khotbah: Lukas 12:1-12
Sub thema: TAKUTLAH KEPADA ALLAH
Khotbah: Lukas 12:1-12
Pendahuluan
Umumnya orang pernah merasa takut. Takut kehilangan pacar, takut kehilangan orang yang dicintai. Ada yang takut karena masa depan. Ada lagi yang takut karena ada setan, dll. Mengenai rasa takut ini dipahami sebagai hal yang wajar, namun dianggap kurang beriman.
Umumnya orang pernah merasa takut. Takut kehilangan pacar, takut kehilangan orang yang dicintai. Ada yang takut karena masa depan. Ada lagi yang takut karena ada setan, dll. Mengenai rasa takut ini dipahami sebagai hal yang wajar, namun dianggap kurang beriman.
Namun tidak
demikian dengan merasa takut kepada Allah. Takut kepada Allah dipahami sebagai
indikator beriman. Kata “takut” kepada Allah di dalam Alkitab tidak boleh
dipahami selalu sama artinya tergantung konteks atau objek dlm kehidupan se
hari2.
Pendalaman Nas
Dalam perikop kita (Lukas 12:1-12), kita menemukan kata “takut” yang ditujukan kepada Allah dan juga kata “berani” dalam ayat 5[1]. Kata takut dalam ayat ini dihubungkan dengan kemahakuasaan Allah melebihi apapun. Allah tidak hanya dapat membunuh tetapi juga melemparkan orang ke dalam neraka. Berbeda dengan kuasa manusia atau apapun di dunia ini. Mereka hanya dapat membunuh tubuh, tetapi setelah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Oleh karena itu, dalam konteks ini para murid Yesus diperingatkan agar tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah. Oleh karena itu, dalam konteks ini ketika orang banyak telah berkerumun yang disebut dalam ayat 1 beribu-ribu, Yesus memberi pengajaran khusus kepada para muridNya agar tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah.
Ada beberapa hal pengajaran Yesus kepada muridNya. Disamping mengenai masalah kepada siapa kita seharusnya takut, juga Yesus mengingatkan para muridNya beberapa hal yang penting. Pertama, mengenai kemunafikan. Mengenai hal ini Yesus dengan fulgar mengingatkan para muridNya agar berhati-hati menjaga hidup sehingga tidak dipengaruhi ajaran (ragi) orang parisi yang nampak dalam cara-cara hidup dan keberagamaannya yang manafik (hidup yang pura-pura baik, alim, kudus, dsb) atau hypokris yang berarti ber sandiwara secara kiasan. Mengenai hal ini Yesus mengatakan bahwa suatu hari semuanya akan disingkapkan. Artinya bahwa kemunafikan kita mungkin tidak diketahui manusia, tetapi tidak demikian bagi Tuhan. Dan Tuhan sangat membenci kemunafikan. Itulah mengapa secara fulgar Yesus menyebut kemunafikan orang Farisi pada zamannya. Kedua, janji pemeliharaan Tuhan secara mendetail. Hidup lebih takut kepada Tuhan dari apapun di dunia ini hanya mudah mengucapkannya tetapi tidak demikian dalam prakteknya, demikian juga hidup tidak munafik atau berpura-pura. Dalam hal ini Yesus mengingatkan para muridNya agar jangan takut terhadap apa pun . Bagi orang yang konsisten hidup takut akan Tuhan akan dipeliharakan. Tetapi sebaliknya, boleh jadi orang yang tidak takut akan Tuhan serta orang yang hidup munafik kelihatannya aman-aman saja bahkan kelihatan berhasil dalam hidupnya, namun itu hanya sementara, paling lama selama hidup di dunia yang singkat ini setelah itu akan mengalami kebinasaan. Oleh karena itu Yesus mengingatkan agar muridNya jangan takut apapun selain takut kepada Allah. Jikalau burung pipit yang dijual 5 ekor dua duit juga dipelihara Tuhan, tentu lebih lagi murid-muiridNya. Ketiga, agar jangan takut mengaku terang-terangan sebagai pengikut Kristus. Titik puncak seruan agar tidak takut ini terletak dalam ayat 11-12. Dalam sejarah gereja ada satu tokoh yang bernama Polikarpus. Ia terkenal karena kesetiaan dan keberaniannya tetap mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamatnya. Walaupun dia diancam dengan hukuman dibakar hidup-hidup oleh kaisar Roma pada waktu itu (tahun 155/156), Polikarpus tidak mau menyangkal dan mengutuk Yesus. Akhirnya ia dibakar hidup-hidup dan mati sebagai martir. Mengapa Polikarpus bersikap demikian? Apakah dapat dikatakan Polikarpus mati konyol karena tidak berlaku cerdik? Mungkin dunia menganggap Polikarpus sangat bodoh, seharusnya Polikarpus menyangkali Yesus saja dengan mulut, tetapi yang penting dalam hati tidak demikian. Cara ini memang cerdik dan sering dilakukan oleh orang Kristen untuk membenarkan diri dari rasa bersalah karena telah menyangkal TuhanNya. Mereka menghibur diri dengan mengatakan yang penting hati. Hati-hati terhadap hal ini. Iblis itu terlalu cerdik untuk dikalahkan. Ada satu contoh mengenai hal ini. Seorang permata yang sudah tamat SMEA sedang mencari pekerjaan. Mengetahui hal ini, ada keluarga kristen yang menawarkan dapat membantu menjadi PNS dengan syarat ada KTP beragama tertentu, yang bukan kristen. Ketika mendapat tawaran tersebut si permata menyanggupi membuat KTP dengan pembenaran diri bahwa itu hanya KTP, yang penting hati saya tetap percaya kepada Yesus Kristus, batinnya. Singkat cerita si permata benar mendapat pekerjaan menjadi PNS. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus. Namun setelah bekerja lebih kurang 3 bulan ada perubahan yang menyolok. Pertama ia menanggalkan kalung salib yang selama ini selalu menghiasi lehernya. Kemudian tidak lama setelah itu, gambar-gambar Tuhan Yesus yang ada di rumah orang tuanya juga diturunkan, dengan alasan ia malu kalau teman-teman kantornya datang. Demikian seterusnya dan akhirnya pindah agama. Berdasarkan kisah nyata ini, kiranya menjadi peringatan kepada kita agar tidak menyangkal Yesus dalam bentuk apa pun. Sebab sangat jelas dikemukakan dalam ayat 8 dan 9 dan juga dalam Matius 10:32,33 “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga”. Sehubungan dengan hal ini, berbeda dengan menentang “anak manusia” dalam ayat 10. Menentang karena belum mengenal atau belum percaya kepada Yesus masih bisa diampuni jikalau kemudian ia percaya kepada Yesus dan bertobat. Tetapi tidak demikian jikalau menghujat Roh Kudus. Yang dimaksud “menghujat” (Yunani “blasphemeo”) Roh Kudus ialah ketika seseorang dengan sengaja menolak pernyataan Roh Kudus seperti penyembuhan orang yang dirasuk setan, yang buta dan bisu yang dilakukan Yesus[2] dengan menginaNya sebagai karya setan[3]. Atau dengan kata lain, jika seseorang oleh penerangan Roh Kudus sudah tahu bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Juruslamat, namun ia tidak mau tahu terhadap apa yang dia sudah tahu tersebut dengan menghinanya, memfitnahnya dengan mengatakan sebaliknya dari penerangan yang telah diberikan Roh Kudus, maka orang tersebut tidak dapat diampuni.
Pointer Aplikasi
(1) Kalau kita diminta jujur, apakah yang paling kita takuti dalam hidup ini? Adakah kita paling takut kepada Tuhan? Terserah apa jawaban kita. Yang pasti melalui Firman Tuhan Minggu ini, kita diingatkan agar jangan takut kepada manusia betapa pun besarnya pengaruh atau kuasanya di dunia ini sebab mereka hanya mampu membunuh tubuh setelah itu tidak berkuasa apa pun, tetapi kepada Tuhan yang tidak hanya membunuh tetapi juga mempunyai kuasa melemparkan orang ke dalam neraka. Pernyataan Yesus dalam ayat 4 bukan sebagai lehitimasi agar berlaku sesuka hati, atau sombong. Tidak. Sebab tanda takut kepada Tuhan berimplikasi terhadap sikap hidup yang benar, tidak munafik atau berpura-pura sebaliknya menghormati pemimpin, mengasihi semua manusia, serta hidup jujur. Tidak takut dimaksud, tidak takut untuk memperlihatkan hidup setia dan patuh kepada Tuhan. Ada satu kesaksian mengenai hal ini. Ada seorang pertua, ia dipercayakan sebagai salah satu kepala bidang di tempatnya bekerja. Ia jujur, tidak mau neko-neko. Yang menarik dalam hidup pertua ini, dia tidak pernah takut menyatakan kepatuhannya kepada Tuhan dimana pun dia berada. Ketika ada pertemuan yang dilakukan pada hari Minggu, ia dengan berani dan berterus terang meminta ijin untuk beribadah kepada pimpinannya. Dan menurut kesaksian pertua ini, walaupun pimpinannya atau teman-temannya bukan beragama kristen namun mereka tidak pernah menghalanginya untuk beribadah, atau dengan sikapnya tersebut mempersulit karirnya. Mengapa? Karena memang pertua ini sungguh-sungguh beribadah. Jikalau 3 jam dibutuhkan untuk pergi pulang dan beribadah, ia benar-benar konsisten dengan waktu tersebut. Ia tidak memanfaatkan alasan beribadah dengan kegiatan lain.
Pendalaman Nas
Dalam perikop kita (Lukas 12:1-12), kita menemukan kata “takut” yang ditujukan kepada Allah dan juga kata “berani” dalam ayat 5[1]. Kata takut dalam ayat ini dihubungkan dengan kemahakuasaan Allah melebihi apapun. Allah tidak hanya dapat membunuh tetapi juga melemparkan orang ke dalam neraka. Berbeda dengan kuasa manusia atau apapun di dunia ini. Mereka hanya dapat membunuh tubuh, tetapi setelah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Oleh karena itu, dalam konteks ini para murid Yesus diperingatkan agar tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah. Oleh karena itu, dalam konteks ini ketika orang banyak telah berkerumun yang disebut dalam ayat 1 beribu-ribu, Yesus memberi pengajaran khusus kepada para muridNya agar tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah.
Ada beberapa hal pengajaran Yesus kepada muridNya. Disamping mengenai masalah kepada siapa kita seharusnya takut, juga Yesus mengingatkan para muridNya beberapa hal yang penting. Pertama, mengenai kemunafikan. Mengenai hal ini Yesus dengan fulgar mengingatkan para muridNya agar berhati-hati menjaga hidup sehingga tidak dipengaruhi ajaran (ragi) orang parisi yang nampak dalam cara-cara hidup dan keberagamaannya yang manafik (hidup yang pura-pura baik, alim, kudus, dsb) atau hypokris yang berarti ber sandiwara secara kiasan. Mengenai hal ini Yesus mengatakan bahwa suatu hari semuanya akan disingkapkan. Artinya bahwa kemunafikan kita mungkin tidak diketahui manusia, tetapi tidak demikian bagi Tuhan. Dan Tuhan sangat membenci kemunafikan. Itulah mengapa secara fulgar Yesus menyebut kemunafikan orang Farisi pada zamannya. Kedua, janji pemeliharaan Tuhan secara mendetail. Hidup lebih takut kepada Tuhan dari apapun di dunia ini hanya mudah mengucapkannya tetapi tidak demikian dalam prakteknya, demikian juga hidup tidak munafik atau berpura-pura. Dalam hal ini Yesus mengingatkan para muridNya agar jangan takut terhadap apa pun . Bagi orang yang konsisten hidup takut akan Tuhan akan dipeliharakan. Tetapi sebaliknya, boleh jadi orang yang tidak takut akan Tuhan serta orang yang hidup munafik kelihatannya aman-aman saja bahkan kelihatan berhasil dalam hidupnya, namun itu hanya sementara, paling lama selama hidup di dunia yang singkat ini setelah itu akan mengalami kebinasaan. Oleh karena itu Yesus mengingatkan agar muridNya jangan takut apapun selain takut kepada Allah. Jikalau burung pipit yang dijual 5 ekor dua duit juga dipelihara Tuhan, tentu lebih lagi murid-muiridNya. Ketiga, agar jangan takut mengaku terang-terangan sebagai pengikut Kristus. Titik puncak seruan agar tidak takut ini terletak dalam ayat 11-12. Dalam sejarah gereja ada satu tokoh yang bernama Polikarpus. Ia terkenal karena kesetiaan dan keberaniannya tetap mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamatnya. Walaupun dia diancam dengan hukuman dibakar hidup-hidup oleh kaisar Roma pada waktu itu (tahun 155/156), Polikarpus tidak mau menyangkal dan mengutuk Yesus. Akhirnya ia dibakar hidup-hidup dan mati sebagai martir. Mengapa Polikarpus bersikap demikian? Apakah dapat dikatakan Polikarpus mati konyol karena tidak berlaku cerdik? Mungkin dunia menganggap Polikarpus sangat bodoh, seharusnya Polikarpus menyangkali Yesus saja dengan mulut, tetapi yang penting dalam hati tidak demikian. Cara ini memang cerdik dan sering dilakukan oleh orang Kristen untuk membenarkan diri dari rasa bersalah karena telah menyangkal TuhanNya. Mereka menghibur diri dengan mengatakan yang penting hati. Hati-hati terhadap hal ini. Iblis itu terlalu cerdik untuk dikalahkan. Ada satu contoh mengenai hal ini. Seorang permata yang sudah tamat SMEA sedang mencari pekerjaan. Mengetahui hal ini, ada keluarga kristen yang menawarkan dapat membantu menjadi PNS dengan syarat ada KTP beragama tertentu, yang bukan kristen. Ketika mendapat tawaran tersebut si permata menyanggupi membuat KTP dengan pembenaran diri bahwa itu hanya KTP, yang penting hati saya tetap percaya kepada Yesus Kristus, batinnya. Singkat cerita si permata benar mendapat pekerjaan menjadi PNS. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus. Namun setelah bekerja lebih kurang 3 bulan ada perubahan yang menyolok. Pertama ia menanggalkan kalung salib yang selama ini selalu menghiasi lehernya. Kemudian tidak lama setelah itu, gambar-gambar Tuhan Yesus yang ada di rumah orang tuanya juga diturunkan, dengan alasan ia malu kalau teman-teman kantornya datang. Demikian seterusnya dan akhirnya pindah agama. Berdasarkan kisah nyata ini, kiranya menjadi peringatan kepada kita agar tidak menyangkal Yesus dalam bentuk apa pun. Sebab sangat jelas dikemukakan dalam ayat 8 dan 9 dan juga dalam Matius 10:32,33 “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga”. Sehubungan dengan hal ini, berbeda dengan menentang “anak manusia” dalam ayat 10. Menentang karena belum mengenal atau belum percaya kepada Yesus masih bisa diampuni jikalau kemudian ia percaya kepada Yesus dan bertobat. Tetapi tidak demikian jikalau menghujat Roh Kudus. Yang dimaksud “menghujat” (Yunani “blasphemeo”) Roh Kudus ialah ketika seseorang dengan sengaja menolak pernyataan Roh Kudus seperti penyembuhan orang yang dirasuk setan, yang buta dan bisu yang dilakukan Yesus[2] dengan menginaNya sebagai karya setan[3]. Atau dengan kata lain, jika seseorang oleh penerangan Roh Kudus sudah tahu bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Juruslamat, namun ia tidak mau tahu terhadap apa yang dia sudah tahu tersebut dengan menghinanya, memfitnahnya dengan mengatakan sebaliknya dari penerangan yang telah diberikan Roh Kudus, maka orang tersebut tidak dapat diampuni.
Pointer Aplikasi
(1) Kalau kita diminta jujur, apakah yang paling kita takuti dalam hidup ini? Adakah kita paling takut kepada Tuhan? Terserah apa jawaban kita. Yang pasti melalui Firman Tuhan Minggu ini, kita diingatkan agar jangan takut kepada manusia betapa pun besarnya pengaruh atau kuasanya di dunia ini sebab mereka hanya mampu membunuh tubuh setelah itu tidak berkuasa apa pun, tetapi kepada Tuhan yang tidak hanya membunuh tetapi juga mempunyai kuasa melemparkan orang ke dalam neraka. Pernyataan Yesus dalam ayat 4 bukan sebagai lehitimasi agar berlaku sesuka hati, atau sombong. Tidak. Sebab tanda takut kepada Tuhan berimplikasi terhadap sikap hidup yang benar, tidak munafik atau berpura-pura sebaliknya menghormati pemimpin, mengasihi semua manusia, serta hidup jujur. Tidak takut dimaksud, tidak takut untuk memperlihatkan hidup setia dan patuh kepada Tuhan. Ada satu kesaksian mengenai hal ini. Ada seorang pertua, ia dipercayakan sebagai salah satu kepala bidang di tempatnya bekerja. Ia jujur, tidak mau neko-neko. Yang menarik dalam hidup pertua ini, dia tidak pernah takut menyatakan kepatuhannya kepada Tuhan dimana pun dia berada. Ketika ada pertemuan yang dilakukan pada hari Minggu, ia dengan berani dan berterus terang meminta ijin untuk beribadah kepada pimpinannya. Dan menurut kesaksian pertua ini, walaupun pimpinannya atau teman-temannya bukan beragama kristen namun mereka tidak pernah menghalanginya untuk beribadah, atau dengan sikapnya tersebut mempersulit karirnya. Mengapa? Karena memang pertua ini sungguh-sungguh beribadah. Jikalau 3 jam dibutuhkan untuk pergi pulang dan beribadah, ia benar-benar konsisten dengan waktu tersebut. Ia tidak memanfaatkan alasan beribadah dengan kegiatan lain.
(2) Benar bahwa manusia juga dapat
menolong dan melindungi kita. Tetapi kuasanya sangat terbatas. Terlebih kita
akan sering kecewa jikalau mengandalkan manusia. Itulah yang banyak terjadi
sehingga ada keluarga yang tidak mengaku keluarga lagi, bahkan ada sahabat yang
telah menjadi musuh, dsb. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Perlindungannya
sempurna. Pertolongannya tepat pada waktunya. Dan terlebih Ia mampu dan mau menolong
kita apa pun persoalan hidup kita. Itulah yang disaksikan Daud dalam pembacaan
kita, Mazmur 57:1-4. Yang perlu kita lakukan ialah takut akan Dia.
Bacaan Alkitab: Lukas 12:1-12
“Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun,
sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama
kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu
kemunafikan orang Farisi.” (Luk 12:1)
Selama pelayananNya di dunia
ini, Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kerajaan Allah kepada orang
banyak yang mengerumuninya, tapi Ia pun juga memberikan pengajaran khusus kepada
murid-muridNya. Alkitab mengatakan bahwa walaupun beribu-ribu orang banyak
telah berkerumun dan berdesak-desakan, tetapi Tuhan Yesus mulai memberikan
pengajaran bukan kepada orang banyak tersebut, tetapi justru pertama-tama
kepada murid-muridNya (ay. 1). Jika Tuhan Yesus sendiri lebih mengutamakan
memberi pengajaran kepada murid-muridNya daripada kepada orang banyak tersebut, berarti apa yang
diajarkan oleh Tuhan Yesus saat itu sangatlah penting. Hari ini kita akan
melihat apa saja hal-hal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.
Pertama, Tuhan meminta murid-muridNya
waspada terhadap ragi orang Farisi (ay. 1b). Yang dimaksud dengan ragi di sini
adalah ajaran-ajaran orang Farisi yang munafik. Di satu sisi mereka mengajarkan
tentang hukum Taurat, sementara di sisi lain mereka sendiri tidak melakukan
hukum Taurat tersebut (Mat 23:3). Ini berarti Tuhan Yesus tidak ingin kita
menjadi seperti orang Farisi yang hanya menjalankan kewajiban agamanya secara
lahiriah, tetapi kita harus menjadi pelaku Firman. Kita harus beribadah sebagai
ucapan syukur kita kepada Tuhan. Ibadah maupun pelayanan kita haruslah
didasarkan pada motivasi yang benar, yaitu karena kita mengasihi Tuhan karena
Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Kedua, Tuhan meminta murid-muridNya
untuk hidup terbuka dan jujur (ay. 2-3). Ini berarti bahwa kehidupan kita harus
benar-benar mencerminkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Sebagai
terang dunia, kehidupan kita tidak dapat tersembunyi, tetapi kehidupan kita
harus memancarkan cahaya kasih Tuhan kepada lingkungan di sekitar kita (Mat
5:14-16).
Ketiga, Tuhan meminta murid-muridNya
untuk tidak takut dan kuatir akan ancaman dunia ini (ay. 4-12). Tuhan tidak
pernah menyatakan bahwa ketika kita bersama Tuhan, kehidupan kita akan aman dan
tenang-tenang saja. Justru Tuhan mengatakan kepada kita untuk menyangkal diri
kita dan memikul salib ketika kita mengikut Tuhan (Mat 16:24). Ini berarti
ada harga yang harus dibayar dalam mengkikut Tuhan. Sepanjang sejarah
perjalanan gereja di Indonesia bahkan di dunia, penganiayaan selalu ada dalam
periode-periode pertumbuhan gereja. Semakin gereja dianiaya dan ditekan,
semakin juga gereja bertumbuh dan berkembang. Justru ketika tidak ada ancaman
dan tekanan, di situ pula gereja perlahan-lahan menjadi mati.
Tuhan Yesus mengajak
murid-muridNya untuk tidak kuatir menghadapi aniaya tersebut. Tuhan mengatakan
agar murid-muridNya tidak takut terhadap ancaman dari manusia (ay. 4), tetapi
mereka harus lebih takut kepada Tuhan. Manusia hanya dapat membunuh
tubuh jasmani kita, tetapi Tuhan dapat membunuh tubuh jasmani dan juga
memasukkan kita ke dalam penderitaan kekal di neraka (ay. 5). Kehidupan kita
sepenuhnya berada di dalam tangan Allah (ay. 6-7), jadi kita pun tidak perlu
kuatir. Menghadapi
ancaman sekeras apapun, Tuhan mengingatkan murid-muridNya untuk tidak
menyangkal Tuhan. Anugerah Tuhan yang luar biasa adalah bahwa ketika kita
mengakui Tuhan Yesus di hadapan orang lain, Tuhan pun akan mengakui kita di
hadapan malaikat-malaikatNya (ay. 8). Tetapi orang yang menyangkalNya juga
nanti akan disangkal Tuhan ketika ia akan menghadapi penghakiman terakhir (ay.
9). Dalam kondisi seperti apapun, jangan sampai kita menghujat Roh Kudus karena
dosa tersebut tidak akan terampuni (ay. 10). Apa yang indah adalah bahwa janji
Tuhan bahwa ia akan tetap menyertai kita sekalipun kita harus dihadapkan kepada
para penguasa-penguasa dunia ini. Tuhan akan memampukan kita untuk dapat
berkata-kata di hadapan mereka (ay. 11-12).
Sungguh suatu pengajaran yang luar biasa indah khusus
bagi murid-murid Tuhan Yesus. Ajaran tersebut juga masih relevan hingga saat
ini. Kita harus waspada akan ajaran-ajaran yang menyimpang, kita pun perlu
tetap menjadi pelaku-pelaku Firman, hidup kita pun harus bercahaya seperti
terang, dan kita tidak boleh takut terhadap ancaman-ancaman dan tekanan-tekanan
dari manusia. Kita harus tetap berdiri teguh dan tidak menyangkal Tuhan Yesus.
Ketika kita mau tunduk dan melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita,
maka Tuhan akan memampukan kita untuk menjalani semu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar