Cari Blog Ini

Jumat, 22 April 2011

Saham Favorit Menjelang Libur Panjang Jelang libur panjang saham apa yang paling diburu para investor.


KAMIS, 21 APRIL 2011, 08:49 WIB
Antique
VIVAnews - Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia diperkirakan tetap memburu sejumlah saham, kendati perdagangan hari ini, Kamis 21 April 2011 merupakan hari terakhir menjelang libur panjang, yang dibiasanya dibayangi aksi ambil untung investor.

Nah, saham-saham apa saja yang bakal diminati pemodal? Berikut, penuturan dua orang analis yang dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, secara terpisah.

Menurut Willy Sanjaya, pengamat pasar modal PT Lautan Dana Securities, aksi borong saham diprediksi tetap terjadi, meski hari ini merupakan perdagangan terakhir menjelang liburan panjang. "Untuk itu, IHSG (indeks harga saham gabungan) berpotensi menembus level 3.800-3.850," ujarnya.

Ramainya transaksi pembelian saham, kata dia, terdorong sentimen positif laju inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang kuat, mata uang rupiah yang perkasa, dan kepercayaan asing terhadap Indonesia yang terus meningkat. "Pernah, dalam satu hari perdagangan mencatatkan nilai transaksi Rp15 trilun," tutur Willy.

Willy merekomendasikan, saham Grup Bakrie seperti saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). "Terutama, terkait rencana Vallar Plc yang berniat menambah kepemilikan di BUMI hingga 51 persen. Sedangkan ENRG dan BNBR seiring proyeksi kinerja yang positif," ujarnya.

Saham lainnya, kata dia, yang juga masih menarik di antaranya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

AKRA, menurut Willy, menjajikan setelah menjual PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk karena akan dapat dana besar dan berpotensi memberikan dividen cukup tinggi. Sedangkan UNTR, berencana menerbitkan saham terbatas atau rights issue. "Kalau BMTR dan MNCN tidak terpengaruh kasus kisruh soal TPI," ujarnya.

Sedangkan Betrand Raynaldi, kepala riset PT eTrading Securities berpendapat, saham-saham yang masih menjadi incaran investor di akhir transaksi pekan ini di antaranya saham-saham unggulan. "Terutama, yang pada transaksi kemarin (Rabu 20 April 2011) berhasil menopang penguatan IHSG," kata dia.

Saham-saham papan atas itu, menurutnya, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sementara itu, berdasarkan data BEI kemarin, IHSG ditutup terangkat 62,11 poin atau 1,66 persen ke level 3.794,76. Penguatan IHSG tersebut didorong pergerakan positif seluruh sektor saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Saham dengan kode ASII berada di urutan pertama saham penopang penguatan IHSG, karena harga saham menguat Rp1.500 (2,79 persen) ke level Rp55.150. Saham bisnis Grup Astra itu menyisakan sisa penawaran beli mencapai 1.151 lot, dengan transaksi yang terjadi sebanyak 8.907 lot.

Saham Grup Astra lainnya, UNTR, bercokol di posisi lima dengan harga naik Rp550 atau 2,45 persen menjadi Rp22.950. Saham tersebut tercatat terjadi transaksi 13.843 lot dan menyisakan sisi penawaran beli sebanyak 2.048 lot.

Sedangkan saham dengan kode INTP, menempati nomor 10 karena harga terangkat Rp350 (2,03 persen) di posisi Rp17.550. Saham di sektor infrastruktur itu menyisakan sisa penawaran beli sebanyak 1.013 lot dan terjadi transaksi mencapai 7.675 lot.

Kemudian MNCN berada di urutan kedua saham teraktif diperdagangkan karena mencatat 7.326 kali, dengan harga saham naik Rp80 atau 10 persen menjadi Rp880. Saham tersebut berhasil terjadi transaksi sebanyak 140.418 lot dan menyisakan sisa penawaran beli mencapai 69.167 lot.

Posisi ketiga saham paling banyak ditransaksikan ditempati ENRG, dengan frekuensi sebanyak 3.808 kali. Di mana harga saham menguat Rp9 (6,92 persen) ke level Rp139. Saham Grup Bakrie itu menyisakan sisa penawaran beli 502.197 lot, dengan transaksi yang terjadi mencapai 1.472.337 lot.

Sedangkan saham Grup Bakrie lain, BUMI dan BNBR berada di posisi sembilan dan 10 saham teraktif diperdagangkan, karena masing-masing mencatat 2.724 kali dan 2.709 kali.

Harga saham BUMI terkoreksi Rp50 atau 1,49 persen menjadi Rp3.300, dengan mencatat terjadi transaksi 237.101 lot dan menyisakan sisa penawaran beli 84.322 lot.
Sementara itu, BNBR menguat Rp2 (3,07 persen) ke Rp67, dengan menyisakan sisa penawaran beli sebanyak 944.940 lot dan terjadi transaksi mencapai 1.449.270 lot.
• VIVAnews
 
Rating
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
KIRIM KOMENTAR
  

Bandara Baru di Bali Mulai Beroperasi 2014 Saat ini, 30 insinyur dari perusahaan India tersebut sedang melakukan studi kelayakan.


Saat ini, 30 insinyur dari perusahaan India tersebut sedang melakukan studi kelayakan.
KAMIS, 14 APRIL 2011, 16:25
VIVAnews – Pemerintah menawarkan kepada investor proyek pembangunan Bandar Udara (Bandara) baru di Bali berlokasi di Buleleng. Kabarnya, investor asal India bakal siap membangun Bandara bertaraf internasional yang membutuhkan dana Rp1,5-2 triliun tersebut.

“Saya tawarkan untuk membangun Bandara bertaraf internasional di Bali Utara, tepatnya di Buleleng. Jadi tidak ada lagi itu kemacetan nantinya, karena telah terdistribusi dengan rata pembangunan dan pariwisata kita,” ujar kata Menteri kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di Denpasar, Bali, Kamis, 14 April 2011.

Wacik mengungkapkan, pembangunan Bandara Buleleng rencananya segera dimulai dalam waktu dekat dan diharapkan bisa mulai beroperasi pada tahun 2014.

Saat in,i sebanyak 30 insinyur dari investor India tersebut sedang melakukan studi kelayakan untuk menentukan lokasi pembangunan Bandara. Sesuai jadwal, dalam waktu 3 bulan ke depan, hasil studi tersebut sudah akan dilaporkan kepada pemerintah.

Rencana pembangunan Bandara di Buleleng itu, kata Wacik, telah dikomunikasikan dan disetujui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memprioritaskan pengentasan kemiskinan dan menekan angka pengangguran serta pemerataan pembangunan.

Menurut Wacik, pembangunan Bandara baru di Bali sudah sangat mendesak lantaran kemacetan di Bali Selatan semakin parah. Kemacetan itu sendiri tidak terlepas dari tingginya tingkat kunjungan turis yagn mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Setiap hari, tercatat lebih dari 7.000 orang wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Padahal Bandara Ngurah Rai hanya sanggup menampung sekitar 4.500 wisatawan tiap harinya. “Jumlah tersebut [7.000 perhari] belum ditambah dengan kedatangan wisatawan domestik. Semua terpusat di Bali Selatan. Apa tidak menimbulkan macet? Makanya kita harus bagi kedatangan wisatawan itu dengan cara membangun Bandara lagi,” ujarnya.

Pemerintah menilai landasan di Bandara Ngurah Rai sudah tak mungkin untuk diperluas. Meskipun Bandara Ngurah Rai rencananya akan direnovasi, namun perluasan itu tidak akan menyelesaikan kemacetan yang semakin parah.

“Sekira 15 tahun ke depan, keseimbangan kedatangan wistawan itu sudah bisa terbagi rata antara di Bandara Ngurah Rai dengan bandara di Buleleng yang nantinya dibangun. Terkait investasi, Pemerintah Indonesia sedang memikirkan untuk ikut menanam saham di sana,” jelas Wacik.

Tidak hanya pembangunan Bandara, pemerintah juga berencana membangun jalan bawah tanah (underpass) di Simpang Dewa Ruci, Kuta, Badung dan jalan Tol yang menghubungkan Denpasar, Nusa Dua. Upaya itu diharapkan bisa mengurai kemacetan di Pulau Dewata tersebut

Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi Pemerintah Prov Bali, Ketut Teneng mengatakan, pembangunan bandara di Buleleng sudah dikomunikasikan dengan Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng. Bahkan, sambungnya, Bupati Buleleng, Putu Bagiada sudah menandatangani MoU dengan investor asal India tersebut saat diundang ke India.

 
Rating

Setelah Kasus Malinda, BI Audit 22 Bank BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk agar pengawasan internal bank lebih baik.


BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk agar pengawasan internal bank lebih baik.
KAMIS, 21 APRIL 2011, 14:05 WIB
VIVAnews - Pasca kasus pembobolan dana nasabah Citibank yang diduga dilakukan Inong Malinda atau Malinda Dee, Bank Indonesia (BI) melakukan audit layanan wealth management. Audit ini dilakukan terhadap 21 bank komersial dan satu bank syariah yang menawarkan layanan ini.
"BI sudah hampir merampungkan audit wealth management. Semoga minggu ini selesai," ujar Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah kepadaVIVAnews.com di Jakarta, Kamis, 21 April 2011.

Audit tersebut dilakukan sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan wealth management, yang terkait dengan prosedur standar operasi (standard operating procedure/SOP), manajemen risiko, pengawasan internal, dan pengelolaan pegawai.
Audit itu juga memastikan apakah dalam pelaksanaannya sudah mengacu kepada aturan BI, khususnya aturan kehati-hatian dan tata kelola (governance) dalam rangka melindungi nasabah dan mitigasi risiko perbankan.

Menurut Difi, selama ini, pelaksanaan pelayanan private bankingpriority banking, dan wealth management masih berbaur antara satu dan yang lain. Untuk itu, BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk ini agar pengawasan internal bank menjadi lebih baik ke depan.
"Ini lebih kepada evaluasi BI terhadap pelaksanaan wealth management di bank yang masih beragam. Kami cari simpul kerawanannya untuk dilakukan perbaikan," tuturnya.

Wealth management merupakan pengelolaan dana nasabah oleh bank yang menawarkan pengelolaan deposito bank maupun investasi produk di luar bank seperti reksa dana dan asuransi (bancassurance).

Bank wajib mengikat kerja sama dengan manajer investasi yang mengelola produk reksa dana dan bancassurance. Bentuk kerja sama antara bank dan manajer investasi ini termasuk dalam objek pemeriksaan BI dalam audit wealth management.
Hal itu untuk memastikan bahwa risiko dari produk tersebut tetap ada di manager investasi reksa dana dan bancassurance tersebut. "Peran bank hanya sebagai channeling agentantara nasabah dan perusahaan investasi pengelola reksa dana dan bancassurance," ujar Difi. (art)
• VIVAnews
 
Rating
KOMENTAR
felicia_gunawan
22/04/2011
Paling kasus melinda hilang dalam 3-6 bulan kedepan
• Balas