Cari Blog Ini

Jumat, 22 April 2011

Bandara Baru di Bali Mulai Beroperasi 2014 Saat ini, 30 insinyur dari perusahaan India tersebut sedang melakukan studi kelayakan.


Saat ini, 30 insinyur dari perusahaan India tersebut sedang melakukan studi kelayakan.
KAMIS, 14 APRIL 2011, 16:25
VIVAnews – Pemerintah menawarkan kepada investor proyek pembangunan Bandar Udara (Bandara) baru di Bali berlokasi di Buleleng. Kabarnya, investor asal India bakal siap membangun Bandara bertaraf internasional yang membutuhkan dana Rp1,5-2 triliun tersebut.

“Saya tawarkan untuk membangun Bandara bertaraf internasional di Bali Utara, tepatnya di Buleleng. Jadi tidak ada lagi itu kemacetan nantinya, karena telah terdistribusi dengan rata pembangunan dan pariwisata kita,” ujar kata Menteri kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di Denpasar, Bali, Kamis, 14 April 2011.

Wacik mengungkapkan, pembangunan Bandara Buleleng rencananya segera dimulai dalam waktu dekat dan diharapkan bisa mulai beroperasi pada tahun 2014.

Saat in,i sebanyak 30 insinyur dari investor India tersebut sedang melakukan studi kelayakan untuk menentukan lokasi pembangunan Bandara. Sesuai jadwal, dalam waktu 3 bulan ke depan, hasil studi tersebut sudah akan dilaporkan kepada pemerintah.

Rencana pembangunan Bandara di Buleleng itu, kata Wacik, telah dikomunikasikan dan disetujui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memprioritaskan pengentasan kemiskinan dan menekan angka pengangguran serta pemerataan pembangunan.

Menurut Wacik, pembangunan Bandara baru di Bali sudah sangat mendesak lantaran kemacetan di Bali Selatan semakin parah. Kemacetan itu sendiri tidak terlepas dari tingginya tingkat kunjungan turis yagn mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Setiap hari, tercatat lebih dari 7.000 orang wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Padahal Bandara Ngurah Rai hanya sanggup menampung sekitar 4.500 wisatawan tiap harinya. “Jumlah tersebut [7.000 perhari] belum ditambah dengan kedatangan wisatawan domestik. Semua terpusat di Bali Selatan. Apa tidak menimbulkan macet? Makanya kita harus bagi kedatangan wisatawan itu dengan cara membangun Bandara lagi,” ujarnya.

Pemerintah menilai landasan di Bandara Ngurah Rai sudah tak mungkin untuk diperluas. Meskipun Bandara Ngurah Rai rencananya akan direnovasi, namun perluasan itu tidak akan menyelesaikan kemacetan yang semakin parah.

“Sekira 15 tahun ke depan, keseimbangan kedatangan wistawan itu sudah bisa terbagi rata antara di Bandara Ngurah Rai dengan bandara di Buleleng yang nantinya dibangun. Terkait investasi, Pemerintah Indonesia sedang memikirkan untuk ikut menanam saham di sana,” jelas Wacik.

Tidak hanya pembangunan Bandara, pemerintah juga berencana membangun jalan bawah tanah (underpass) di Simpang Dewa Ruci, Kuta, Badung dan jalan Tol yang menghubungkan Denpasar, Nusa Dua. Upaya itu diharapkan bisa mengurai kemacetan di Pulau Dewata tersebut

Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi Pemerintah Prov Bali, Ketut Teneng mengatakan, pembangunan bandara di Buleleng sudah dikomunikasikan dengan Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng. Bahkan, sambungnya, Bupati Buleleng, Putu Bagiada sudah menandatangani MoU dengan investor asal India tersebut saat diundang ke India.

 
Rating

Setelah Kasus Malinda, BI Audit 22 Bank BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk agar pengawasan internal bank lebih baik.


BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk agar pengawasan internal bank lebih baik.
KAMIS, 21 APRIL 2011, 14:05 WIB
VIVAnews - Pasca kasus pembobolan dana nasabah Citibank yang diduga dilakukan Inong Malinda atau Malinda Dee, Bank Indonesia (BI) melakukan audit layanan wealth management. Audit ini dilakukan terhadap 21 bank komersial dan satu bank syariah yang menawarkan layanan ini.
"BI sudah hampir merampungkan audit wealth management. Semoga minggu ini selesai," ujar Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah kepadaVIVAnews.com di Jakarta, Kamis, 21 April 2011.

Audit tersebut dilakukan sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan wealth management, yang terkait dengan prosedur standar operasi (standard operating procedure/SOP), manajemen risiko, pengawasan internal, dan pengelolaan pegawai.
Audit itu juga memastikan apakah dalam pelaksanaannya sudah mengacu kepada aturan BI, khususnya aturan kehati-hatian dan tata kelola (governance) dalam rangka melindungi nasabah dan mitigasi risiko perbankan.

Menurut Difi, selama ini, pelaksanaan pelayanan private banking, priority banking, dan wealth management masih berbaur antara satu dan yang lain. Untuk itu, BI perlu membuat kejelasan pelayanan produk ini agar pengawasan internal bank menjadi lebih baik ke depan.
"Ini lebih kepada evaluasi BI terhadap pelaksanaan wealth management di bank yang masih beragam. Kami cari simpul kerawanannya untuk dilakukan perbaikan," tuturnya.

Wealth management merupakan pengelolaan dana nasabah oleh bank yang menawarkan pengelolaan deposito bank maupun investasi produk di luar bank seperti reksa dana dan asuransi (bancassurance).

Bank wajib mengikat kerja sama dengan manajer investasi yang mengelola produk reksa dana dan bancassurance. Bentuk kerja sama antara bank dan manajer investasi ini termasuk dalam objek pemeriksaan BI dalam audit wealth management.
Hal itu untuk memastikan bahwa risiko dari produk tersebut tetap ada di manager investasi reksa dana dan bancassurance tersebut. "Peran bank hanya sebagai channeling agentantara nasabah dan perusahaan investasi pengelola reksa dana dan bancassurance," ujar Difi. (art)
• VIVAnews
 
Rating
KOMENTAR
felicia_gunawan
22/04/2011
Paling kasus melinda hilang dalam 3-6 bulan kedepan
• Balas

Aburizal: Politisi Kutu Loncat, Lumrah "Kepindahan elit partai ke parpol lain tidak merisaukan dan tidak perlu dibesar-besarkan."


JUM'AT, 22 APRIL 2011, 06:37 WIB
Syahid Latif
VIVAnews - Partai Golkar tak merisaukan fenomena politisi kutu loncat yang mulai diperagakan sejumlah kader partai politik. Alasannya, semua elit dan petinggi partai politik di Indonesia pada awalnya merupakan kader Partai Golkar.
Demikian ditegaskan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, di sela perayaan Dharma Shanti Nyepi di Bali, Kamis, 21 April 2011. "Karena itulah, kepindahan para elit partai ke parpol lainnya, tidak merisaukan dan tidak perlu dibesar-besarkan bagi Golkar," katanya.

Aburizal Bakrie yang akrab disapa Ical ini menegaskan, partainya tidak akan terlalu serius menanggapi fenomena politis kutu loncat seperti ditempuh Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, yang lompat pagar ke Partai Demokrat.

Bagi Golkar, fenomena tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi dan sah untuk dilakukan. Terlebih lagi bila politikus yang pindah partai tersebut dilakukan menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Kalaupun ada kader Partai Golkar yang lompat ke parpol lain, Ical menganggap, hal itu disebabkan partainya memiliki sistem penjejangan kader yang memungkinkan mereka memiliki kualitas sama satu dengan lain. "Kader yang sudah di atas, karena merasa terdesak, sehingga akan pindah menjadi ketua atau pimpinan parpol lain. Bagi Golkar, hal itu menggembirakan jika ada kadernya bisa berkiprah di partai lain," ujarnya.

Apalagi, sejak dulu Partai Golkar sudah dikenal sebagai tempat semua kader politik menempa diri untuk nantinya berkiprah di panggung politik nasional baik di legislatif maupun eksekutif.

Ical justru mengaku senang jika Partai Golkar mampu melahirkan pemimpin dan elit di panggung politik Indonesia. "Ya, jika ada kader kami yang
menjadi pimpinan politik di tempat lain itu baik," ujar mantan Ketua Setgab
Koalisi Parpol ini.

Disinggung apakah partainya akan berupaya membentengi diri agar kadernya tak membelot ke parpol lain, Ical menyatakan hal itu tidak perlu dilakukan. Alasannya, kader Golkar dipastikan tidak akan mungkin meninggalkan partainya.
"Tidak ada sanksi lah. Kenapa juga harus dibentengi. Kalau ada yang pindah ke parpol lain itu kan untuk kepentingan bangsa Indonesia," ujar Ical.
klik: http://www.supexteam.com/mannab1010

Kamis, 27 Januari 2011

Biarkan "Crop Circle" Tetap Jadi Misteri

SLEMAN, KOMPAS.com — Dosen Antropologi Visual UGM Yogyakarta, M Zamzam Fauzanafi, berharap agar crop circle di Yogyakarta tetap menjadi misteri sehingga orang akan terus punya bermacam persepsi akan maknanya. Zamzam menilai fenomena crop circle itu menjadi cermin kehidupan manusia saat ini.
"Orang zaman sekarang selalu mencari tontonan yang baru. Crop circle di Berbah merupakan suatu hal yang baru bagi orang Yogya, bahkan orang Indonesia," kata Zamzam ketika ditemui di rumahnya, Krapyak, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (26/1/2011).
Menurut dia, simbol yang terbentuk di crop circle tidak bisa dimaknai. "Simbol hanya bermakna ketika dikaitkan dengan konteks, sedangkan kita tidak bisa menemukan konteks pada simbol ini," katanya.
Ia berpesan, biarkan ini menjadi misteri. Karena dengan misteri, orang akan terus memersepsikan maknanya. Semua pemaknaan sah-sah saja hukumnya. Karena ini adalah pesan, yang bebas diartikan semua orang.
Baginya, fenomena kemunculan pola aneh di Berbah dan Piyungan adalah manifestasi karakter manusia saat ini, yaitu eksistensi. Terlepas dari perdebatan siapa yang membuat pola itu, orang yang menonton dan pembuat pola berebut untuk diakui eksistensinya.
"Jika kita asumsikan crop circle Berbah dibuat manusia, orang itu ingin menunjukkan eksistensi melalui karya. Begitu juga orang yang menonton. Mereka berlomba ingin menyaksikan secara langsung fenomena tersebut," katanya.
Masyarakat seakan tidak mau ketinggalan informasi. "Seakan-akan ada rasa ketinggalan informasi jika tidak menonton dari tempat kejadian. Kalau kata anak sekarang, ya, ngeksis," kata Zamzam.
Fenomena crop circle telah merebut atensi semua kalangan. Ini memberikan keuntungan ekonomi bagi media massa maupun masyarakat sekitar. "Saat ini adalah era ekonomi atensi. Siapa yang bisa merebut perhatian khalayak dengan cepat, dialah yang memperoleh benefit dan eksis," katanya sembari tertawa.(तिपंग जाया / मंसूर Nababan)